09 Oktober 2012

04 September 2012

25 Agustus 2012

Aku Ingin Hidup Seribu Tahun yang Lalu

kebohongan adalah hal biasa
bagi mereka yang suka menyembunyikan petaka
tanpa disadari
ada hal lain yang mengganjal kepala
kemudian menyulut api menyala membakar kota
hangus menjadi kebusukan yang memenuhi dunia tua ini

kebodohan adalah hal lumrah saja
bagi mereka yang tercuci otaknya pada televisi
mengagungkan keindahan semu pada layar dan fenomena
tanpa mereka sadari
menciptakan bara senyala neraka tiada diperhitungkan olehnya
kemudian membakar habis sampai sisasisa mulut mereka
dunia tua ini siapa yang peduli lagi nasib orang lain
yang mereka tahu adalah bagaimana mengenyangkan perut dan nafsu kepuasan diri

o mengapa aku hidup pada dunia yang mengerikan ini?

Jakal KM 14 Jogja, 03 Juni 2012

*) Ekohm Abiyasa

* Pict from here.

Masuk antologi Ukara Geni - Wuyung Ketundhung, Pawon Sastra Solo, 16 Juli 2012

02 Agustus 2012

Sebatas Angan dan Mata

mungkin hanya sebatas harap
ketika rasa itu benarbenar pergi darimu
ketika aku pun lelah mengurai tanda tanya segitiga semu
memang hanya sebatas harap

lelah juga pada akhirnya
mungkin juga yang kau butuhkan adalah seperangkat perhiasan berkilau
dari pada melihat wujud seorang penggila
meski engkau menolak anggapan itu

terlihat jelas di depan mata
cinta sebatas mata dan situasi
sungguh tidak indah kisah ini
aku tak mampu lagi menyerap lukaluka

cukup sebatas angan saja
cinta ini bersarang
meski jua merindukan
namun seperti yang pernah tertulis bahwa ada hal yang lebih baik dan penting

cukup sebatas mata saja
engkau mempermainkan perasaan
meski jua sakit merelakan
kesetiaan dan apa adanya itulah hal yang penting

Jakal KM 14 Jogja, 03 Agustus 2012

*) Ekohm Abiyasa

http://serampaikata.blogspot.com/2012/08/sebatas-angan-dan-mata.html

08 Juli 2012


seperti hari yang sudahsudah
adalah resah yang ada
yang ditikam derita
oleh sebab ia sendiri menduga yang ada
dilintas pikir saja
beban tanpa jauh menolak kulit yang asing
mengejar sendiri kereta malam yang ia jaga

seperti hari yang sudahsudah
adalah geram yang ada
yang memicu kosong jiwa dan kata
oleh sebab perut yang kempes ia mengadu pada siapa
di hujan yang pintas membasahi kota
kemana ia berpendarkan cinta dan cita yang pesing
hari makin beranjak ia masih tekun menggali rumah masa depannya

lubang ini akan menjadi tempat yang nyaman
bukan di dunia ini
aku gila dan tamparlah aku berkali
sebab ada hidup yang lebih terjal menungguku datang

Jakal KM 14 Jogja, 08 Juli 2012

*) Ekohm Abiyasa

http://serampaikata.blogspot.com/2012/07/hidup-yang-terjal.html

07 Juli 2012


Oleh : Mustofa Bisri

Kalian sibuk mengujarkan dan mengajarkan kalimat syahadat
Sambil terus mensekutukan diri kalian dengan Tuhan penuh semangat
Berjihad di jalan kalian
Berjuang menegakkan syariat kalian
Memerangi hamba hambaNya yang seharusnya kalian ajak ke jalanNya
Seolah olah kalian belum tahu bedanya
Antara mengajak yang diperintahkanNya
Dan memaksa yang dilarangNya

Kalian kibarkan Rasulurrahmah Al Amien dimana mana
Sambil menebarkan laknatan lil'aalamien kemana mana

Ada apa dengan kalian?

Mulut kalian berbuih akhirat
Kepala kalian tempat dunia yang kalian anggap nikmat

Ada apa dengan kalian?

Kalian bersemangat membangun masjid dan mushalla
Tapi malas memakmurkannya

Kalian bangga menjadi panitia zakat dan infak
Seolah olah kalian yang berzakat dan berinfak
Kalian berniat puasa di malam hari
Dan iman kalian ngeri
Melihat warung buka di siang hari
Kalian setiap tahun pergi umrah dan haji
Tapi kalian masih terus tega berlaku keji

Ada apa dengan kalian?

Demi menjaga tubuh dan perut kaum beriman dari virus keharaman
Kalian teliti dengan cermat semua barang dan makanan
Bumbu penyedap, mie, minyak, sabun, jajanan.
Rokok dan berbagai jenis minuman
Alkohol, minyak babi dan nikotin adalah najis dan setan
Yang mesti dibasmi dari kehidupan
Untuk itu kalian
Tidak hanya berkhotbah dan memasang iklan
Bahkan menyaingi pemerintah kalian
Menarik pajak produksi dan penjualan
Dan agar terkesan sakral
Kalian gunakan sebutan mulia, label halal

Tapi agaknya kalian melupakan setan yang lebih setan
Najis yang lebih menjijikkan
Virus yang lebih mematikan
Daripada virus alkohol, nikotin dan minyak babi
Bahkan lebih merajalela daripada epidemi

Bila karena merusak kesehatan, rokok kalian benci
Mengapa kalian diamkan korupsi yang merusak nurani
Bila karena memabokkan, alkohol kalian perangi
Mengapa kalian biarkan korupsi
Yang kadar memabokkannya jauh lebih tinggi?
Bila karena najis, babi kalian musuhi
Mengapa kalian abaikan korupsi
Yang lebih menjijikkan
Ketimbang kotoran seribu babi

Ada apa dengan kalian?

Kapan kalian berhenti membanguan kandang kandang babi
Di perut dan hati kalian dengan merusak kanan-kiri?
Sampai kalian mati dan dilaknati?

@2012 ?


Teruntuk malam yang dingin, engkau meretakkan kenangan yang telah berkeping. Menuju gelap menuju kekal. Sebuah perjalanan sunyi yang tiada habisnya.

Tersebab engkau pula, purnama yang bersinar terang di mataku. Adakah jalan sunyi pula di dadamu? Atau hanya semu belaka?

Oh purnama..
Mengapa hatiku kacau begini.
Adakah senyummu tiada pasi
Adakah dingin yang menyuburkan imaji
Adakah kelam yang membuai
Adakah sunyi lagi di ruang hatimu
Adakah bait-bait di halaman hatimu lagi?

Oh purnama..

Jakal KM 14 Jogja, 08 Juli 2012

*) Ekohm Abiyasa

http://serampaikata.blogspot.com/2012/07/oh-purnama.html

28 Juni 2012

Larik Getir

lariklarik hening
yang aku
suka dan ketika matahari berputar
melewati bumi
aku benci angkaangka
serta perjalanan asing
yang aku
kubur dalam cangkircangkir imajinasi
aku tukar
dengan segepok kematian
berulangulang
tasbih derita
dan peluh yang kesah
kasat juga engkau raba rinduku

Jakal KM 14 Jogja, 29 Juni 2012

*) Ekohm Abiyasa

http://serampaikata.blogspot.com/2012/06/larik-getir.html

09 Juni 2012

Rindu Gila

sepi adalah teman si setia
yang mengurung pada gelap malam sembunyi
diri juga berpayah susah
mencaricari bayang atau menantinya
saat matahari terbenam dalam almari
hati terpisah menyeruak getir basah

oleh hujan berpasrah diri
kacakaca pecah

oleh rindu berlagu sendiri
seperti menggilai boneka kesayangan yang patah

ia mesti gila
sebab hurufhuruf dan katakata akan mengalir menjadi kalimatkalimat
atau baitbait hujan dan rindu

ia mesti mencari petaka
sebab daundaun langit akan memancarkan pelangi hangat
yang menumbuhkan senyum dan sederet kenangan yang menggebu

sepi adalah kegilaan yang ia rasakan
sunyi adalah teman sebaya dalam pencarian atau pengembaraan yang jauh sungguh

Jakal KM 14 Jogja, 09 Juni 2012

*) Ekohm Abiyasa

http://serampaikata.blogspot.com/2012/06/rindu-gila.html


embun telah meretas
pada pagi yang hitam
semendung kopi mengampas
setia pada perjalanan yang melelahkan

embun telah berjelaga
pada pagi yang menghiba
serona jingga senja kala
melukis diri kesetiaan pada jalanjalan sunyi purba
seperti tidur panjang sebuah arca

embun telah menguap
seperti pula janji yang menguap
bias air menyamarkan rona pelangi senja
diantara lelaguan dan puisi yang tumbuh secara akar dan merambati seluruh jiwa
ia berkelana sendiri menuju dungeon tua

merentangkan nasib pada jalan batu
sekeras baja
namun ia memancarkan windwalk berlari kencang dan jauh
sebuah pelarian lama
dan kolamkolam darah
bersimbah hurufhuruf
dalam dungeon tua ia memahat sendiri ribuan roh dan monster yang ia jumpai
bertunaslah embun
senyala api neraka pada kuil senja
ia mengekal bersemayam dalam dunia asing
dunia api dan darah air mata

suatu saat pasti ada yang mencari word tresure
pada manusiamanusia mujur
pengembara dunia jauh dan asing
sungguh dunia hitam yang paling
memancarkan aura gelap dan anyir darah
berbalut dengki api menyala matanya
memanggilmanggil empu pembuat
namun ai akan setia pada manusia baru yang dikenal dan berkuasalah pada sebuah kekuatan
kekuatan purba yang menakjubkan

lantas embun masihkah bertunas dan meretas?
seperti dahulu kala

Jakal KM 14 Jogja, 09 Juni 2012

*) Ekohm Abiyasa

http://serampaikata.blogspot.com/2012/06/old-dungeon-word-treasure.html

08 Juni 2012


bertautan berkali
mati sendiri akhirnya
pucukpucuk mimpi dan sunyi
menggelembung kekal seperti balon udara siap terbang berkelana
udara utara
ia berjalan kembali

bersakit meski
mati pula nantinya
geregetan melihat rona pelangi suka mempermainkan hati
atap bocor air hujan turunlah memenuhi gelembung maya
diujung perjumpaan
oleh sebab ketiadaan ia menghilangkan jejakjejak yang sempat tertaut mimpi

beranda hampir musnah sekali
ketika mengingat bayang itu mencabik luka
temaram semakin gelap dan tersamarkan oleh nyali
ketakutan dan kekawatiran menjadi hidangannya
udara semakin keruh oleh katakata
tulisan dan namanama yang terpampang pada bukubuku tebal berhalaman rapi

tertekan oleh maut yang mengintai
derap darah yang membercak kentara
sendirian ia akan mengarungi halamanhalaman sunyi
mencoba halhal yang belum terpikirkan dan termimpikan olehnya
sebab udara kian jauh bila tak harus bersua
oh, kotak ini terkunci rapat sekali

sudah cukup perjumpaan ini
wajahmu pasi hai purnama
masih ada sisa waktu dan nafas dalam perjalanan nanti
boleh aku berpamitan sejenak, merampungkan hening rindu dan katakata
disisa malam berangkatlah mencari sekerat daging yang terpisah dari jiwa
dan angguranggur memabukkan jati diri, o malam dingin begini

Jakal KM 14 Jogja, 08 Juni 2012

*) Ekohm Abiyasa

http://serampaikata.blogspot.com/2012/06/elegi-mimpi-rindu-dan-perjalanan-yang.html

03 Juni 2012

Masa Kecil, Bermain di Rumah Nenek

bersandar pada pohon beringin
menyejukkan ingatan
tentang masa kecil berlarilari
pada musim yang dingin
suka berbecek pada hujan
mengejar tawatawa bahagia sekali

bermain di belakang rumah tua
nenekku baik sekali
memukul kayu, memencarkan bola kelereng
di kebun yang rimbun
soresore bersama teman sebaya
kami memanjat pohon jambu air dan memetiknya
ada pula pohon duwet di sebelahnya
banyak sekali buahnya
kami menikmati masamasa kecil dulu
sering kali kayu atau alat bermain kami meruntuhkan genteng
karena terlalu semangatnya
kakekku juga baik sekali
mereka pandai membuat kami senang

ketika pohon melinjo bertunas daundaunnya
aku memetikkan daunnya buat lauk makan
dan juga melinjo yang merah
suka sekali memanjatnya dan lama berdiam di dahan yang besar itu

di depan rumah, masih ada halaman yang luas menyerupai kebun
pohon mangga seringkali berbuah
dan lagi aku bermainmain dengan girangnya
aku senang tinggal di rumah kakek nenek sampai bertahuntahun
nenek sering pula marah
namun itu tanda sayangnya kepada aku, cucunya
indah sekali memori yang aku timbun
namun aku masih menyisakan dosa pada mereka
kakek nenekku yang berbaik hati dan bijaksana

Jakal KM 14 Jogja, 03 Juni 2012

*) Ekohm Abiyasa

* Sebuah kenangan masa kecil. Indah sekali rasanya. Meski aku seringkali tidak ada rasa pede pada diri sendiri. Entah apa itu? Tak banyak aku bercerita. Lugas saja. Jujur diriku masih merasa bersalah pada kakek dan nenek. Ketika aku sering mencuri barang mereka. Entah apa itu. Masa kecil oh masa kecil. Waktu terus saja berlalu meski aku teriakkan segala kesalahan dan duri. Saudara kakek nenek banyak yang tinggal sedusun. Jadi, seperti sebuah keluarga besar dalam desa. Oh betapa indahnya masa dahulu. Hidup pada kegotongroyongan dan kebersamaan. Kenikmatan yang tiada lagi kini. Hm.. Semoga kakek dan nenekku tenang dan tersenyum melihat kami yang masih tinggal di dunia nyata ini. Salam kangen kek.. Salam kangen nenek terbaikku.

http://serampaikata.blogspot.com/2012/06/masa-kecil-bermain-di-rumah-nenek.html

02 Juni 2012

ada hati yang luruh
ia memerlukan pemahaman yang jauh
berlari meski jauh
berdiri meski terjatuh

ada bunga bermekar sendiri
bersenandung saat mentari menyelesaikan ritual suci
mengubur malammalam sunyi
menampakkan risau pada embun pagi
terangi, terangi kami

o matahari
bunga ini tumbuh tanpa rindu yang kupatri
di hatinya memendam elegi
semacam mawar berduri
risau diri
membunuh juga lamalama kupendam duriduri ini

o hati yang malang
engkau tercabik pada hal yang terbuang
simpan resah dan air mata untuk kehidupan yang akan datang
pada sebuah perjalanan yang belum tertuntaskan

Jakal KM 14 Jogja, 03 Juni 2012

*) Ekohm Abiyasa

http://serampaikata.blogspot.com/2012/06/menyimpan-resah.html

tempat kami berkumpul dulu
masih kuingatingat tentang sebuah pertemuan
kami para blogger jagat maya
menjabat tangan masingmasing dan memperkenalkan sebuah nama
tawa dan canda

"hey lihat rusa itu"
kini sudah gemuk ya taman ini?
kolamkolam ikan luasnya
berdiri patung di tengah
kami rajin bersua dan bercanda
apa saja kami lahap dengan tawa
berbagi rindu dan bertukar kepala

ada kenangan menggantung ingatan di kepala
pada wajahwajah berseri
aku merindukan suasana seperti dulu
kami bercakapcakap tentang cerita yang kami miliki
jam berputar waktu berlalu
dimana mereka sekarang, kawan blogger solo raya

balekambang, namamu masih kusimpan dalam memori
berkat engkau aku menemu keceriaan hidup dalam kebersamaan
menyatukan hati dan misi
betapa indah kenangan ini
aku merindukan mereka, aku merindukan pertemuan

Jakal KM 14 Jogja, 02 Juni 2012

*) Ekohm Abiyasa

http://serampaikata.blogspot.com/2012/06/balekambang-sebuah-pertemuan.html

01 Juni 2012

Adalah Cahaya

adalah cahaya
riwayat yang hilang
dan setumpuk catatan usang
menggenangi mata
berserakan
di manamana
kertaskertas dan abu bekas
pemujaan semalam
tentang dunia ilusi
yang melenakan
ruang yang dalam, terdalam
membekukan yang pasti
batubatu bersimbah tinta
mengarsir sendiri pada nganga luka
jangan engkau mengaburkan
semua ada catatan
meski
tiada berguna lagi
kini
namun mungkin nanti ada saatnya membuka kembali
sejarah dan riwayatriwayat itu
setelah sekian tahun terpendam
dalam tanah liat dan kegersangan gurun berpasir darah

adalah cahaya
kembali pada jalan masingmasing
guna menghisap dosa dan kesalahan
persembahan tak akan siasia
meski telah dicampakkan
karena kita manusia
kita manusia
manusia

adalah cahaya
membekukan dan mencairkan
setiap kenangan adalah makna
saling bercerita satu sama lain
apakah yang kau punyai selain cinta yang semu belaka
dan apa pula yang aku bisa selain kesetiaan tiada tara
meski pula terkalahkan

adalah cahaya
ketika rindu bersenggama dengan sunyi
haha. dia tertawa bak pemenang lotere hari ini
bukan apaapa kok ini
mungkin hanya bualan saja
tak perlu ada usap derai air mata atau malah menertawakan kebodohan diri
menganggap dia ada rasa cinta
padahal bukan
padahal bertolak belakang
apa yang kamu pikirkan?
apa yang kupikirkan?
hah

adalah cahaya
seumpama rumput itu berhenti bergoyang
buat apalagi tumpahan cerita
siasia
kubuang saja dalam tong sampah
biar membusuk lekas
duka yang luas
luka yang panas
lekas
lekas bias

adalah cahaya
kembali membekukan kenangan dan air mata
keheranan aku
matahari tiada lelahnya menertawakan kesendirian
boleh aku pinjam bahumu
sejenak saja
ada racun di mataku
silau dan bercak
ku bisa tenggelam lagi
ah. robek saja mukaku
aku tak pernah mati
menyertaimu dengan segumpal kesetiaan

Jakal KM 14 Jogja, 01 Juni 2012

*) Ekohm Abiyasa

http://serampaikata.blogspot.com/2012/06/adalah-cahaya.html

31 Mei 2012

Perform Music of Poetry oleh Filesky. Seorang seniman muda asal Surabaya. Piawai memainkan biola.

Silakan download dibawah ini. Dan juga silakan lihat performnya via youtube, disini
Download all music disini (30.3MB)

30 Mei 2012

Setiaku Bertali Rindu

semakin habis jinggaku
semakin terasa detikdetik luka yang menganga pada sekujur jiwa
semakin mendera apa yang kuliat dan kurasa

kuncup bunga tak lagi bermekaran
di pekarangan yang kujaga
selalu bergelombang melambai matahari
meminta hujan
merindu tarian senyum yang engkau tawarkan
namun semakin sesak dada ini

dimana lagi kuncup bunga bermekar
dimana lagi kucari senja yang membakar
kopikopi masih setia
untuk dijadikan bumbu cumbu luka

semakin tangis dagingku
semakin gerilya mendung lamat mencari celah dahaga
semaku kuresapkan diri pada kerasnya perburuan jelaga

mekarlah kau bunga
meski tiada lagi senyum untuk diri
ada hal lain yang mungkin engkau inginkan
segeralah bertunas menjadi bintang di cakrawala kata
meski pula tiada kehadiran sosok diri
ada hal lain memang yang memang harus kau inginkan

dan harihari makin kusesap mendalam
kian mengharukan dan gelisah tak tertahan
semoga hanya kiasan saja dalam perjalanan
setiaku bertali rindu padamu, semoga tidak engkau lupakan
kepingan biarlah menjadi satuan dalam perjalanan panjang

Jakal KM 14 Jogja, 30 Mei 2012

*) Ekohm Abiyasa

http://serampaikata.blogspot.com/2012/05/setiaku-bertali-rindu.html

29 Mei 2012

Hati dan Belati

dia
dia
sudah sempurna
dan tidak pantas pada kesendirian
mengalah aku
pada waras embun pagi yang tetap tegar berdiri

dia
dia
begitu sempurna
dan tidak boleh terluka pada kecacatan
pada hitam tiada tahu kapan bersinar seperti yang diingini

menginginkan hati
soresore begini
pada wajah berpola misteri
dan hati
di mana kau sembunyikan rindu pagi

menginginkan belati
soresore begini
pada hujan lama sekali
tiba di garis bujur jemari
kemana hai kemana lagi kau pijakkan mentari

Jakal KM 14 Jogja, 29 Mei 2012

*) Ekohm Abiyasa

http://serampaikata.blogspot.com/2012/05/hati-dan-belati.html

28 Mei 2012

Darting Serpent

ada semacam racun yang menyerap energi
ketidakberdayaan yang ada
semakin membuat lunglai
darting serpent menikam katakata
dan mati perlahan

ada semacam gurat samar
diberanda yang tercemar
sungguh tidak ingin kehilangan tenaga
bilamana harus kudekap sendiri sisasisa rindu berkeping
racunnya menyerap kata
racunnya menyerap luka
biar subuh nanti menguap sendiri
embun adalah teman yang baik selama ini
dan mentari menghangatkan tenaga yang terluka
masih bertahan dengan segala keangkuhan

Jakal KM 14 Jogja, 29 Mei 2012

*) Ekohm Abiyasa

* Pada sebuah dini hari yang dingin. Habis cerita atau semakin membuatku tertantang untuk mendapatkan sumber insiprasi yang baru. Semoga angin masih berhembus. Aku masih bernapas.

http://serampaikata.blogspot.com/2012/05/darting-serpent.html

O, Luka

awan biru menderu
di kepalaku

dan mendayu
seperti pantai
yang mengombakkan rindu
di pelupuk hatimu
dan
hatiku

o, kiranya bukan tentang luka
dan temaram sunyi lagi
sekedar memancing katakata keluar
dari mulut yang terbakar

awan biru menggumpal
didadaku
dan mempermainkan
sesukanya
kelebat wajah dan rindu
yang mengapung pula
didasar hati
tak menjadikan cinta yang sempurna
untukku?


o, luka
derai wajah yang mungkin lama terhapus
dari memori yang hangus
terbakar amarah seorang pengelana

Jakal KM 14 Jogja, 28 Mei 2012

*) Ekohm Abiyasa

http://serampaikata.blogspot.com/2012/05/o-luka.html

Sebuah Perjalanan

hanya titiktitik kosong dijiwa
kemudian makin lenyap dimalam sunyi
duh, kemana sisa rindu itu
tangkai bunga melayu dan merapuh lebih dulu

tercekat sendiri
menilik dan menghitunghitung garis
sebab ada halhal mengacaukan pikiran ini
namun masih ada sisasisa ruang untuk memungut kenangan manis

meski pula engkau memilih jalan sendiri
tak mengapa, ada banyak hal yang bisa dipetik
sebab pula garis memang berbeda yang kita jalani
ada halhal yang lebih penting dari sekedar urusan cinta yang pelik

so, the journey's still continues..

Jakal KM 14 Jogja, 28 Mei 2012

*) Ekohm Abiyasa

http://serampaikata.blogspot.com/2012/05/sebuah-perjalanan.html

25 Mei 2012

Wajahmu Menggelisahkan Hati

wajah mengalihkan mata
bersemayam kalbu hijau seperti rumput liar
di semak belukar
semakin subur dan mekar
hujan mengecatnya

itukah wajahmu
sendu biru di rona batas
bulir rindu mengampas
namun terparkir di hati selalu

wajahwajah cemas dan gelap
berbaris diantara garisgaris
redup dan resah menggelisah
semakin basah rindu menggenangi diri

itukah wajahku
arsiran belum sempurna
mengapa kau merindukan seseorang hai pengelana?
bukankah ini dunia yang luas, namun satu saja yang terpaut, jawabku

benar, dia semakin akrab dimalammalam sunyiku
sepenuh dan sebesar apa gunung, tetap saja wajahnya lebih mempesona mata dan pikiran
duh, bait manalagi yang harus kurapikan
yang kemudian kubuang siasia diujung pisau

Jakal KM 14 Jogja, 25 Mei 2012

*) Ekohm Abiyasa

http://serampaikata.blogspot.com/2012/05/wajahmu-menggelisahkan-hati.html

22 Mei 2012

Mimpi yang Tersembunyi

sepasang mawar
biru dan putih memekar

di beranda hati
membawa rindu dan sunyi
lubuk yang dalam
dalam ruang dimana kita membereskan beberapa sajak
kemudian ada sepotong cahaya melingkari tubuh
o itu adalah butiran sajak putih
yang mengental dan memantul dari pujangga lama
tercenung memikirkan nasib
puisi yang terpenggal kini

aduhai, mataku hilang sebelah
kemana mencari dan mengapa
ada butiran debu yang menempel satunya
aku mengalah
aku kalah

diantara ikanikan di kolam
saling bersaing memperebutkan umpan atau makanan
tubuhku juga kalam
gelisah yang membeku biru dan tenggelam

entah mengapa, wajahmu memenuhi kepala dan ingatanku
apakah kiranya itu aku juga dalam mimpimimpi yang kau ceritakan
tiga malam dalam wajah yang sama
oh katakan saja, jangan buat penasaran diriku

pada akhirnya aku mengalah
dan benarbenar kalah

Jakal KM 14 Jogja, 22 Mei 2012

*) Ekohm Abiyasa

http://serampaikata.blogspot.com/2012/05/mimpi-yang-tersembunyi.html

21 Mei 2012

Harapan Sunyi

hujan berkesudahan
namun rindu masih menempel erat dalam lingkar sunyi
di pelupuk hati
dan kemudian hening tak bersisa
hanya bayang samar wajahmu

kuraut sepucuk rona
warnawarna pelangi yang memudar
ada kalanya hitam terarsir manis
dalam cangkircangkir kopi
masih saja bercerita tentang hangat kopi
mengepul asap
lariklarik makin tersusun
bait hujan, rindu dan kopi
dimana lagi harus kusimpan resah gelisah
kekwatiran melanda
musim hujan kapan datang lagi, hujan masa depan
bersemi dan bertunas namanama baru
dalam ruang dan dunia "kita"

kuharap tak sekedar teman dalam ruang ini
masih saja ada harapan untuk memulai kehidupan baru
dirimu yang kutuju
berkenanlah hadir dan menyesap rindu ini

Jakal KM 14 Jogja, 21 Mei 2012

*) Ekohm Abiyasa

09 Mei 2012

Battle Poetry: Di Mimpiku

semacam rindu yang kugores pada dinding sepi
terbiar lirih menyebut tentang engkau
dan hari adalah rentang yang tak henti kututupi
kadang sengaja kulupa supaya tak lama
matahari terbit di timur lagi

pada pagi kubuka jendela
kutanya bagaimana engkau lewati malammu
aku masih sama seperti tadi
tentangmu di mimpiku

Batavia, 100512

mimpi beku
jadi tentang dingin rindu
yang
ketika kau buka pintu
udara berhembus sejuk
di dadaku
dan
pula kisah semalam
ada geletar darah yang menggebu
ini makin membunuhku
rindu pilu


Ruang Maya, 10 Juni 2012

*) Sinyo April (tegak) - Ekohm Abiyasa (miring)

Puisi diambil dari sini.

08 Mei 2012

(Battle Poetry) Dibawah Pendar Bulan

di bawah pendar bulan malam ini
angin merenda bisik jangkrik.
di papan jati hitam. ibu suri tengah berpakai tikai
oh, mata siapa yang pandang memandang?

seperti gemuruh badai
keidakkaruan suasana
ada bercak darah di lantai
bekas pemotongan puisi
mati bersimbah duka


Ruang Maya, 08 Mei 2012

*) Refila Yusra (tegak) - Ekohm Abiyasa (miring)

http://serampaikata.blogspot.com/2012/05/battle-poetry-dibawah-pendar-bulan.html

Bunyi dan Rindu

ada bunyi
memanggil hatiku
ada ruang sunyi
bertumbuh rindu

di dada
segumpal asap
mengepulkan awan putih
seputih kapas

air gemericik
mengalir danau hati
dalam diam ada geletar sampai pada mata
hatimu jua terpaut
dalamdalam
dalam sunyi
ku

rinduku
bersemayam seperti seorang raja
di kahyangan
kekalkah nanti
aku memlih bersembunyi diri
kusembunyikan segala rindu yang pernah tumbuh pula
dihati yang tercabik

ada bunyi pula
menggeleparkan nadi
gemuruhnya
seperti badai pasir besar
di kamar sunyi
sendirian terkapar
dan
terbakar

Jakal KM 14 Jogja, 08 Mei 2012

*) Ekohm Abiyasa

http://serampaikata.blogspot.com/2012/05/bunyi-dan-rindu.html

03 Mei 2012

(Battle Fiksimini) Putri Mimpi

Disini manusia memiliki nama dan wajah yang serupa. Sssstt.. Kamu tau? Penjaga mimpi sering tertipu. Dia mengira aku akasia padahal akasia itu ada di belakangnya.Hmm..Penjaga itu mulai amnesia! Aku suka memperolokkannya dengan sapu ijuk. Kamu tau ijuk? Itu yang sering di pakai nenek sihir. penjaga mimpi, takut dengan itu. Karna nenek sihir suka lupa pake gigi.
"Oooow..! Aku ngumpet dulu ya. Penjaga mimpi mulai mendekati persembunyianku"

Ssssttt..

* * *

Jadilah putri yang tegar. Kala malam mencekam sunyinya. Datang pula si penjaga.
"Sudah waktunya berbenah!" teriak sang penjaga.
Duh, mana aku lupa menyikat gigi ini.
"Ya, tunggulah sebentar. Ada hal yang harus kupersiapkan sebelum memulai pertunjukkan ini".
Kemudian aku mulai mencari nama-nama yang ada dalam kotak ajaibku. Hahaha.. Ketemu. Aku kegirangan.
"Hm... Kenapa harus dia..??"
* * *

Kamu harus berani mengucap nama itu. Sebab nama adalah sesuatu yang asing disini. Karena asing, jadi itu nilainya jika dibawa ke anak TK 10. Jika ke anak SD 100, dan seterusnya. Nama di sini memang suatu yang menggiurkan. Hanya untuk mendapat nama, anak beranak di sini jadi gila. Dia lupa kalau nama adalah petaka. Oh, pepatah siapa yang membudak..

* * *

Bukan dia yang membikin, si penjaga itu! Oleh sebab keserakahan masing-masing kita. iyakah? Sang penjaga hanya menjalankan titah sang gelap. Putra kegelapan ketika kita memejamkan mata.
Diam-diam kita sering meminjam kosakata asing buat menutupi jejak. Dalam pementasan semu pula melanturkan lelaguan dan bebunyian.
"Awas si nenek sihir datang!".
Kita menyergap pepohonan. Aduh rindangannya.
"Terima kasih pohon, kamu telah menyelamatkan kami".
Aku pikir ini tempat yang bagus buat bermain-main ketika senja tiba.
"Oh ya, namamu siapa pohon?"

* * *

Sssstttt.. Kita jangan sembunyi di bawah pohon itu. Setidaknya jangan akasia. Dia memang rindang seperi Albizia sama yang juga rindang. Tapi ingat, di rindangnya banyak kecoa..Mereka suka anak kecil seperti kita. Nenek sihir juga suka, tapi kecoa lebih beringas..Dia mampu menjadikan alam raya kotor. Bauk!
"Ah, sudahlah..Sebutkan saja siapa namanmu???".

* * *

Tidak, kupikir kamu akan tahu suatu saat nanti. Bila tiba waktunya kau akan tahu sendirilah. Perihal apa dalam pertunjukan nanti. Ada banyak hal yang harus kusimpan dan kupelajari sendiri dulu. Kau tidak bolehlah tahu dahulu. Itu bisa celaka. Langit murka dan menurunkan panah-panah hitam seperti ijuk yang marah pada bumi. Melesat cepat bak peluru menghujam tanah.
"Kau tidak inginkan tanah hijau ini jadi rusak oleh sebab hal-hal kecil yang belum waktunya kau ketahui?".

* * *

"Oya, aku belum bilang padamu kan?".
Bahwa penjaga mimpiku ini wajahnya serupa raksa--mercuri yang teramaaaat putih. Dan mimpi kerap terbohongi, kalo panjaga ini jubahnya bertato akasia. Kau tahu tidak? Di balik jubahnya ada merpati. Banyaak sekali. Pernah aku meminta satu merpati. Tapi dia bilang, "Ini bukan mainanmu, dik!" aku kesal!.

Ruang Maya, 03 Mei 2012

01 Mei 2012

Mementaskan Sendiri

ketika malam menghampiri
ada kalanya gairah menyergap tubuh
ditimpuh kepingkeping sunyi
dan dikebiri sendiri
ia menarinari mementaskan perjalanan jauh
seorang gelisah berdandan ala petruk
sebab ruh tubuh telah menjauh pula
pada Ruh Sejati
dimana ia akan mencarinya
oleh hujan akan berkelana sedapatnya
kemana kaki menghentak
kemana angin berhibak

ketika malam hendak lari
ia menjumpai aura sebelum mati
sempat bercakap mengenai materi dan dunia
apakah pantas ia raih atau tinggalkan
dunia dongeng dan dunia mimpi

sepertinya ia hanya sanggup mengeja huruf orang lain
sebab tak mampu ia memetakan hidupnya sendiri
terlalu lama berasyik diri membuat matahari terlalu cepat berlari
menuju ruang dan dimensi lain

akankah ada teman bernama setia
kemana dan bagaimana malam berteduh
o, dia tersenyum sendiri
menyaksikan tubuhnya babak belur dihajar gada malaikat

Jakal KM 14 Jogja, 01 Mei 2012

*) Ekohm Abiyasa

http://serampaikata.blogspot.com/2012/05/mementaskan-sendiri.html

Melati Sunyi

semerbak melati sunyi
di ruang kelana

beranda patah yang terjaga
romantika sepasang kekasih

berjelaga kian muram
ditepi hati yang bersemi

rerintik hujan membawa beberapa larik rindu
pada tebal bibir seorang pemanggul kata
ia taburka sedikit kisah pada hidupnya
melati sunyi yang ranum
wajahnya mengental dalam hati

sekian waktu berapa lama ia akan terjaga
menjaga yang ia cinta

duhai pemanggul kata
ikhlaslah memelukku erat
dalam pertapaan rona jingga
yang kian berat kala matahari berpendar cahya
yang sunyi beralamat pada hati seorang saja
dia
melati sunyi yang kurindu dan kunantikan suatu saat

Karanganyar Solo, 30 April 2012

*) Ekohm Abiyasa

http://serampaikata.blogspot.com/2012/04/melati-sunyi.html

10 April 2012

Dari para penulis sukses kita belajar betapa pentingnya menjaga konsistensi dalam penulisan. Konsistensi ini sangat menentukan keberhasilan seseorang berkarier dalam dunia tulis-menulis. Kendati banyak orang yang paham betapa pentingnya konsistensi dalam penulisan, tapi tak banyak yang berhasil mempertahankannya. Banyak kendala dalam perjalanan menyebabkan sang calon penulis sukses urung melanjutkan langkahnya. Dia memilih untuk berhenti karena merasa melakukan sesuatu yang sia-sia, bahkan merasa tidak berbakat sama sekali.

Begitulah kisah para calon penulis yang memilih off daripada melanjutkan mengayuh dayung mencapai pulau tujuan: menjadi penulis yang berhasil. Sebenarnya manusiawi saja kalau orang membatalkan niatnya untuk menjadi penulis, toh masih ada banyak profesi lain yang bisa digeluti dan cukup menjanjikan. Akan tetapi, bagaimana jika tarikan keinginan untuk menulis itu selalu datang dan memanggil-manggilnya untuk kembali menulis? Tapi, apa daya, tarikan itu tak mampu menggoyahkan niatnya untuk kembali. Ia suntuk dengan profesi lain, padahal ruh-jiwanya ada pada dunia penulisan.

Persoalan yang acapkali menjadi kendala dalam penulisan adalah kehilangan semangat menulis saat menempuh perjalanan panjang yang melelahkan. Dalam perjalanan itu, godaan untuk pergi dari dunia penulisan selalu saja ada. Godaan untuk lepas dari komitmen untuk menjadi penulis bisa hadir kapan saja. Bagi sebagian orang, akan memilih keluar saja dan mengikuti niat atau profesi barunya itu. Bagi sebagian lain, memilih tidak mempedulikan godaan itu. Ia tetap konsisten menulis karena ia menanamkan komitmen untuk menjadi penulis yang berhasil kelak.

Nah, beberapa hal yang bisa menyemangati kita untuk menjaga dan merawat semangat menulis, diantaranya, pertama, jadikan pekerjaan menulis sebagai arena pengabdian. Dengan menjadikannya sebagai arena pengabdian, maka kita akan lebih kuat bertahan dari godaan untuk keluar dalam lingkaran penulisan. Kedua, jadikan menulis sebagai wujud ibadah. Orang memilih banyak cara untuk beribadah dengan menekuni bermacam-macam kegiatan. Kita yang suka menulis, seyogianya menjadikan kegiatan menulis sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan, wujud amal-bakti dan sebagai bukti bakti kita kepada Tuhan dan sesama.

Ketiga, jadikan kegiatan menulis sebagai medan perjuangan untuk mencapai visi hidup. Misalkan, visi hidup kita adalah untuk turut mencerdaskan masyarakat Indonesia, maka patri-lah visi itu di dalam benak dan wujudkan ke dalam karya nyata. Misalkan, visi hidup kita adalah untuk menjadi penulis profesional, ukir-lah itu di dalam hati dan segera membuatnya menjadi kenyataan. Ini tantangan! Beranikah kita menyambutnya?

Salam menulis.

( I Ketut Suweca, 1 April 2012).

http://edukasi.kompasiana.com/2012/04/01/merawat-semangat-menulis/

Ada orang yang enggan menulis hanya karena rasa khawatir. Ia khawatir kalau artikel yang dihasilkannya bakal tidak sempurna. Dia membayangkan betapa ia akan merasa sangat malu kalau ketahuan bahwa dirinya tak bisa diandalkan. Apa yang akan dikatakannya kepada para sahabat kalau ternyata artikelnya ditolak redaksi? Di mana ditaruh mukanya kalau ternyata artikelnya jelek?

Dia sesungguhnya orang yang sangat berpendidikan, memiliki ilmu lebih dari cukup untuk dibagikan. Tapi, karena dibayangi kekhawatiran seperti tadi, maka dia putuskan untuk menghindari ajakan menulis di media massa. Orang seperti ini nyata ada, bukan mengada-ada.

Manusia tak ada yang sempurna. Hanya Sang Pencipta yang sempurna. Karena manusia sendiri tak sempurna, maka hasil karyanya pun tentu ada cacat-celanya. Seharusnya, manusia tak perlu khawatir dengan ketidaksempurnaan yang melekat pada dirinya. Ia tak sendiri! Semua manusia memiliki ketidaksempurnaan itu.

Dalam hal berkarya, yang terpenting adalah berusaha untuk menghasilkan sebuah karya yang terbaik yang kita bisa, bukan berharap karya yang sempurna. Karya yang terbaik adalah karya yang dikerjakan secara total dengan sumber daya yang ada. Walau hasilnya jauh dari sempurna, tak mengapa. Yang penting, sudah dikerjakan sebaik mungkin, tidak setengah-setengah atau sekadar membuat. Seyogianya itulah prinsip yang kita pegang dalam menulis, bahkan dalam mengerjakan tugas apapun dalam kehidupan ini.

Adalah hal yang normal dan wajar kalau sebuah karya memiliki kekurangan di sana-sini. Walau pun sebuah artikel sudah dikerjakan dengan sebaik-baiknya, tapi tetap saja masih ada kekurangannya. Tulisan saya ini dan tulisan-tulisan saya sebelumnya jauh dari sempurna. Kalau tidak analisisnya dangkal, pasti referensinya kurang. Kalau tidak referensinya kurang, pasti sepi dari data pendukung. Kalau tidak sepi dari data pendukung, pasti ada saja kesalahan ketik. Sejatinya, saya sudah berusaha menyusun dengan kemampuan yang ada, tapi begitu dipublikasikan, eh, ternyata masih juga ada beberapa kesalahan dan kekurangan.

Kalau demikian halnya, mengapa menolak berkarya hanya karena khawatir hasilnya nggak baik? Takut diledek teman, takut dicemooh, takut dicibir, ditolak atau sejenisnya!? Daripada membiarkan diri diliputi kekhawatiran yang tak masuk akal semacam itu, lebih baik segera saja menulis. Menulis dengan sebaik-baiknya dan mengirimkannya ke koran, majalah, atau ke media lain. Melakukannya dengan ringan dan lepas. Tidak lagi menjadikannya beban, sehingga bisa merasakan getar pesonanya saat menjalani prosesnya.

Selamat menulis.

( I Ketut Suweca , 27 Desember 2011).

http://edukasi.kompasiana.com/2011/12/27/enggan-menulis-karena-khawatir-hasilnya-tak-sempurna/

07 April 2012

(Fiksimini) Suara Itu Menakutiku

Suara-suara itu menakutiku. Aku tak berkutik memejam mata. Kepala pening tiap beban atau hal berat masuk dalam kepala ini.

Suara-suara itu masih suka mengusik keheningan malamku. Aku semakin takut.Berat rasanya menahan beban. Darimana suara itu bermuncul? Ah tidak begini kau memperdayaiku. Pergi sajalah, jangan ganggu aku.

Suara itu datang kembali. Disuatu malam. Siap menerkamku. Menelan bayang-bayangku. Perlahan. Kemudian melahap seluruh tubuhku.

"Dimana dirimu Tuhan?"

Jakal KM 14 Jogjakarta, 07 April 2012

06 April 2012

060412

hurufhuruf berserakan
di kepalaku
bertumbuh konak
yang menggelinjang
diatas genteng
kemudian tibatiba hujan turun
menyeret kebawah, membentuk danau besar
di kota yang kumuh

Jakal KM 14 Jogjakarta, 06 April 2012

*) Ekohm Abiyasa

05 April 2012

Dirimu Satu

dirimu satu
sebab itu aku tak mampu
menjadi seperti yang kau mau

dirimu satu
sebab itu aku berharap
hanya yang bertangan kuat saja yang bertahan
memapah duka dan tawamu

Jakal KM 14 Jogjakarta, 06 April 2012

*) Ekohm Abiyasa

"Yang Merindukan Adinda"

memikirkan senyummu membuat mataku rabun
memiliki senyummu membuat diri bingung

sebab apa aku tak tahu

bolehkah aku meminjam cintamu sejenak saja
ketika bara api datang diujung hari
aku berlindung dibalik panasnya
dan harihari terasa sulit kulalui

seekor burung elang memagut bayangmu
aku halau
tapi rinduku patah
rindu yang bersemayam cukup lama
apa kau tahu itu? aku bingung

kenapa musim cepat berlalu
sedang kita hanya berilusi saja
cinta didunia maya, alam maya
bilakah aku harus memungut sisasisa cinta dan rindu sendirian
sebab telah kau dapatkan yang kau inginkan
aku sih tidak hirau semua itu
aku cukup berpuas saja
sebab cinta memang tidak harus saling memiliki
yang kuingin senyummu tetap ada
dan kita saling mengayunkan katakata dalam kolong langit
melemparkan beribuibu huruf
dan memikul sunyi bersama
itu saja

aku tidak bertanam terlalu harap
pada tunas yang tumbuh menjadi buah dan akar yang kuat
hidup hanya rebah
sebentar dia akan berganti topeng dan warna

udara malam ini terlalu sengat
mempunyai arti ada kekecewaan disana
kalau saja aku hanyalah garam yang terbuang atau seekor lalat
yang hanya menjadi sampah atau penghias mata

sebentar, aku hanya ingin senyum itu tetap ada
maukah kamu memaafkan kelancangan dan gurauan yang menusuk
ah tidak perlu kiranya
kukira hatimu juga tahu, hatiku hatimu
adalah satu

aduh, kepala pening
hentikan omong kosong ini
aku ingin beranjak pada malam paling hening
menabur garam diatas perih
yang kudengar, sesuara lembut memanggilmanggil namaku dan katakata romantik
duh, jiwa terbawa arus kebawah
dibawa bayang jahat pulang ke kandang
habitat manusia kerdil dan jinjin bersemayam

yang kudengar lagi, sesuara mengigau sepertinya
sebuah nama, sebuah rindu yang akut
ada tangan mengukir namanya pula

aku pinjam belati
aku ingin juga menamai batu itu, Sentayu
dalamdalam
semerbak wangi bunga melati
dan darahku menjadi tali yang mengikat pintupintu rindu
dibalik batu itu tertanda "Yang Merindukan Adinda"

Jakal KM 14 Jogjakarta, 06 April 2012
Tepat habis jam 12 malam

*) Ekohm Abiyasa

03 April 2012

(Cerpen) Kisah Tukang Sol


Hari kian gelap saja. Senja telah habis meninggalkan pecintanya.

Seorang bapak memarkirkan sepeda onthel di halaman masjid. Sepedanya penuh muatan. Ada payung yang bersandar. Mungkin buat jaga-jaga kalau hujan. Ada benang-benang yang terurai. Sepatu dan sendal tertata dalam kotak box dibelakang sepeda.

"Assalamu'alaikum Mas". Sapanya lirih dan sejuk. Sembari tersenyum beliau menjulurkan tangan menyalamiku.
"Wa'alaikumsalam Pak".
"Mau istirahat dulu mas disini. Boleh kan Mas?"
"Boleh, boleh Pak silakan. Mari cari tempat yang enak dan nyaman Pak".

Kami mencari tempat yang nyaman buat bercengkerama. Beliau memperkenalkan diri, pak Rahmat namanya. Kami bercakap-cakap.Beliau seorang tukang jahit sepatu dan sendal. Tapi beliau juga menerima perbaikan barang-barang lainnya, payung yang rusak dan peralatan dapur lainnya. Orang-orang lebih suka memanggil tukang sol. Dia mampir di mesjid buat melepas lelah. Wajahnya kelihatan tua, meski ku taksir usianya 45 tahunan. Dia sungguh sederhana.

Kulihat raut wajahnya kliatan tenang. Serasa tanpa beban begitu. Sabar menerima apa adanya. Kami berkenalan, kemudian kian hangat obrolan kami. Dia berasal dari keluarga orang berada sebenarnya. Namun entah kenapa dia milih jalan seperti ini. Beliau juga berasal dari keluarga baik-baik. Ayahnya seorang TNI. Sikap yang disiplin dan keras dari sang Ayah membuatnya tak tahan. Ia pun memilih jalan sendiri, keluar dari rumah mencari makna hidup. Sekian waktu berlalu tak mengira jadi seperti itu. Tragedi hidup manusia berbeda-beda. Ada yang mujur ada yang terbujur. Ada yang sukses ada yang masih dalam proses. Semua tergantung individunya masing-masing, saya kira. Pun juga tidak mengabaikan takdir atau kuasa Tuhan. Yang kutahu bapak ini tegar sekali menjalaninya. Seolah hidup ini terasa nikmatnya.

Datang seorang ibu yang ingin menjahitkan sepatu anaknya yang robek. Sepatu anaknya buat sekolah esok harinya. Senyum selalu terkembang. Tak ada rasa sedih atau menelan penderitaan kulihat. Melayani dengan hati betul.

"Ini Buk, sudah selesai semua".
"Berapa Pak ongkosnya?".
"Terserah Ibu saja. Saya ikhlas menerimanya".

Si ibu merogok kantong bajunya. Ada selembar uang sepuluh ribu dan langsung begitu saja diserahkan kepada bapak tukang sol. Niatnya mau ngasihkan kembalian tapi si ibu menolaknya. Yah, sudah rejeki ga akan kemana batinku. Si ibu senang, sang anak pun riang.

"Terima kasih banyak, semoga lancar segala urusan Ibu".
"Sama-sama Pak, semoga juga lancar usaha Bapak".

Beliau melanjutkan ceritanya. Pak Rahmat sudah memiliki istri dan seorang anak. Pak Rahmat sendiri pergi mencari nafkah berhari-hari ke beberapa daerah.

"Oh jadi istri dan anak bapak ditinggalkan begitu?".
"Iya Mas".
"Biasanya berapa lama bapak pulang kerumah?".
"Ya ga pasti mas, kadang 7 hari kadang 10 hari. Paling lama sebulan baru pulang kerumah".
"Wah!".
"Apa bapak ga kasihan sama istri dan anak Bapak?".
"Ya gimana lagi Mas, sudah begini ya jalani saja".

Beliau tinggalkan keluarganya demi mencari nafkah. Untuk beberapa hari ia tinggalkan anak dan istrinya. Sudah terkummpul uang barulah ia pulang melepas rindu. Sungguh terharu aku mendengarkan kisahnya. Berasa nonton sinetron di televisi. Selain menontonkan glamour kehidupan, si kaya dan si miskin, pergaulan di kota-kota besar juga menampilkan potret kisah kehidupan manusia pinggiran. Sama seperti yang aku jumpai didepanku ini. Ini kisah nyata, real!. Betapa masih banyak orang yang kesulitan mencari segenggam beras. Harus rela mengorbankan waktu buat keluarga.

* * *

Agaknya malam ini ada segurat wajah rindu. Tergurat dalam dahi dan kerutan wajah pak Rahmat.

Beliau mengeluarkan bekal nasi yang dibungkus kertas plastik. Ala kadarnya, sungguh sederhana banget. Cuman nasi dan beberapa lauk tempe kering dan serundeng. Beliau makan dengan pelan. Sedikit sekali ia makannya. Nasi sengaja tidak dihabiskan buat bekal esok hari katanya. Duh aku terkejut dan terheran saja dibuatnya. Ada saja di dunia orang seperti pak Rahmat ini. Aku semakin heran dengan liku-liku kehidupan manusia. Andai saja itu adalah aku, bagaimana bisa aku harus merasakan pahit getir seperti yang pak Rahmat rasakan. Berkaca dari kisah pak Rahmat ini, aku masih bisa bersyukur diberi kemudahan dalam urusan rejeki.

"Ya Allah, mudahkanlah urusan pak Rahmat ini. Lancarkan rejekinya. Barokahilah Ya Allah". Dalam hati berdoa. Air mataku jatuh. Kupalingkan muka buat menyekanya.

"Ini pak ada air putih". Kusodorkan gelas dan porong berisi air putih.
Kuperhatikan seksama cara ia bertutur kata dan cara makannya. Sepeda dengan seabrek peralatan yang menempel dibelakang memenuhi kotak kepalaku. Senyum manis selalu terpancar. Menatap hari esok dengan segumpal harapan.

Berharap dapat suatu pelajaran darinya.

Malam telah menyeret kami beradu dingin. Pukul 9 malam yang tertera pada jam dinding. Kami masih asyik betukar pikiran. Bercerita mengenai diri masing-masing.

"Terima kasih banyak Mas sudah membantu saya".
"Membantu apa to Pak. Biasa saja kok. Bukankah kita memang harus saling tolong menolong Pak?".
"Iya Mas, betul. Tapi saya malah jadi merepotkan Mas".
"Udah malem ni Mas. Mari istirahat dahulu. Biar besok saya bisa cari rejeki lagi".
"Iya Pak, mari Pak".

Kupersilakan saja pak Rahmat masuk dalam mesjid. Kami menjemput mimpi masing-masing.

Jakal KM 14 Jogjakarta, 03 April 2012

*) Ekohm Abiyasa

Ini adalah sepenggal kisah nyata dari pertemuanku dengan sorang tukang sol sepatu. Aku lupa namanya juga daerah ia berasal. Seingatku dia berasal dari daerah Jawa Barat dan istrinya orang Sragen, Solo. Ingat pula tentang pengalaman dia berkelana dari rumah, mengembara mencari yang ia mau. Pernah akrab dengan kekerasan/preman. Pernah akrab pula dengan dunia santri. Itu yang kuingat tentang kisah seorang tukang sol. Dan saya rasa tidak sepenuhnya benar. Karena aku benar-benar lupa kejadian yang sebenernya.

Poto diambil dari mas cawah.

Bualan Para Pembelot

sekerlip malam telah pergi
tiba saatnya berpulang
pada jalanjalan terang
menghilang bersama tautan sinar mentari
berjalan lagi
instropeksi diri
mengulam hari berdikari
terik di siang
membakar kulit
berdiri makin terkapar
ikanikan yang lapar
menjulur lidah pembelot
melihat tontonan sampah para elit yang berunding alot
petang terbentang
dibelantara depan

melangkah lagi, dipenghujung hari yang tiada berkesampaian
setiup lilin membakar diri
serupa air menempa bebatuan
lamalama mati sendiri
tenggelam lagi diruang sunyi tempat merayakan kemunafikan
dan sehelai kain yang menempel, membuncah birahi para pembelot
ia meyakini kebeneran diri
sedang diluar sana ada lebih banyak kepala menempel pendapat masingmasing
mengotot dan melotot
mempertahankan eksistensi
suarasuara gaduh
membungkam relung kita, kapan sandiwara ini berakhir?

Jakal KM 14 Jogjakarta, 03 April 2012

*) Ekohm Abiyasa

01 April 2012

Chapter 9: Mencatat Huruf

Membendung air mata yang sedang jatuh ini, tidak mudah bagiku. Karena terlanjur mengelupas rasa sakit ini. Kau sungguh kejam dan tega. Oh mengapa engkau tega melakukan ini? Sebab pula telah patah temali yang terikat. Telah aus oleh waktu. Mungkin?

Karena terlalu banyak juga beban di kepala. Membujur sampah berserakan. Tak ada tempat penampungan atau pembuangan yang layak. Lama-lama membusuk juga kan? Hehe.. Ada banyak kisah yang harus diselesaikan di meja maya ini. Di ruang maya yang luas amat ini. Aku hanya membutuhkan sikap konsisten dalam melarikkan huruf perhuruf. Lalu kau dapat membacanya dengan mimik sedih atau tertawa. Sebab dunia ini begitu beku untuk digenggam sendirian.

Ini bukan pula akhir dari sebuah kisah. Kukira ini adalah sebuah permulaan. Permulaan tentang rindu pada seseorang atau semacamnya. Luka pedih yang ditabur garam, tawa riang karena mendapat tautan hati pada seorang gadis yang diinginkan. Atau mungkin yang lain. Terserah menilai saja. Sebab duniaku dengan duniamu tentu berbeda bukan? Berbagi resah atau rindu sangat menyenangkan kukira. Okelah mari kita tulis saja kenangan yang ada. Setiap peristiwa adalah jejak manis yang baik untuk diabadikan. Di ruang maya ini, manalagi?

Next jemari ini harus kebal kram untuk memulai lagi.

Jakal km 14 Jogja, 01 April 2012

*) Ekohm Abiyasa

28 Maret 2012

Buat temen-temen penyair, mari berpartisipasi menyumbang puisi..
Mengenang seniman Murtidjono

http://obyektif.com/sastrabudaya/read/mengenang_seniman_murtidjono

Deadline akhir MARET 2012

27 Maret 2012

Merapu Sunyi

:Murtidjono

disisasisa hening ini aku merapu sunyi
juga bekas jejak yang engkau tanam ditanah merah
mencaduk pesanpesan yang engkau kirim
dalam kerlap malam jua aku bersungut memaknai semua yang kau perankan
atas segenap kisah manusia
engkau hidup terus mengalir menguliti jalan sunyi

bahwa puisi bukan pula hal modular
yang membuat kita hanya puas terkapar
begitu saja
berhenti pada titik langkah
tidak juga engkau menjadi pandik
itu yang kutangkap dari senyum senjamu

di halaman, kosong oleh rerintik air hujan
debudebu beterbangan
beradu langkah dengan cengkiak
betapa muram tanahtanah ini
aku semakin tak mengerti
kukira maukuf saat ini, betapa pula aku ceroboh mengartikan sampaian
pesanpesan yang engkau tawarkan yang engkau pentaskan

namun masih ada waktu buat berkelana
akan kutautkan rindu dipenghujung malam
menyegel pintupintu asing
berukup tepat ditengah sunyi hitam
tingkar pikiran dan kepala dengan berjuta huruf yang berderetderet disekeliling
engkau hidup dikedalaman makna

hingga hilang sudah sunyi menjadi embun
maserasi fajar menggertak aorta
dan matamata yang malas enggan beranjak
memuncak tinggi di nirwana

Jakal KM 14 Jogja, 27 Maret 2012

*) Ekohm Abiyasa


Dalam rangka ikut memeriahkan Arisan Kata 17 disini.

11 kata kunci yang digunakan:
  • Maukuf: iman yang tidak diterima, seperti halnya orang munafik yang imannya baru dapat diterima jika kemunafikannya telah hilang;
  • Merapu: memunguti (barang-barang yang terbuang atau tidak berguna); meminta sedekah;
  • Berukup: mengasapi diri dengan membakar setanggi, kemenyan, dsb; sudah diasapi dengan ukup;
  • Menyegel: membubuhkan meterai; membubuhkan cap (dengan lak dsb) pada surat rahasia; menutup rumah (bangunan, barang, dsb) yang disita dengan menempelkan segel pada pintu dsb;
  • Maserasi: pelunakan suatu benda karena suatu cairan; pelunakan jaringan karena terendam dalam cairan, terutama cairan asam, sehingga jaringan pengikat melarut dan bagian jaringan dapat dipisahkan (dalam histologi); perubahan degenerasi yang menyebabkan perubahan warna, pelunakan jaringan, disintegrasi janin yang masih dalam rahim setelah mati (dalam obstetri);
  • Mencaduk: mengangkat atau menaikkan (kepala, ujung belalai, dsb);
  • Sampaian: gantungan; sampiran;
  • Pondik: sombong;
  • Tingkar: me.ning.kar v mengepung (musuh, penjahat, dsb); mengelilingi;
  • Modular: bersifat standar;
  • Cengkiak: semut yang besar dan hitam warnanya;

26 Maret 2012

serampaikata smile twilight night. the temple of a thousand poems have been created. rebound goal. i was the devil that night will be blood thirsty poems. where should i look

Visit http://serampaikata.blogspot.com

Link serupa disini.
Yang dua kumpulan puisi malah ilang.Padahal udah jadi .pdf. Hiks

23 Maret 2012

(Fiksimini) Dunia Sunyi Ini Sangat Indah

Dunia sunyi ini terasa indah sekali. Aku menemu malam gelap. Tiada orang yang bisa menebak secara pasti apa yang aku rasakan. Betapapun kamu menilai salah, itu tidak akurat 100%. Yang tahu pasti hanyalah aku dan Tuhan. Dunia ini terasa asing bagimu, tetapi terasa sangat nyaman aku huni. Hei sunyi..

Dunia ini indah juga tak ada ukuran pasti untuk kebenaran. Orang punya pembenaran sendiri-sendiri. Penilaian sendiri-sendiri.

"Oh ini salah, mana data dan faktamu!!".

"Tidak. Aku tidak butuh data dan fakta kawan. Yang kubutuhkan hanyalah imajinasi yang luas dan rasa yang tinggi".

"Uh, kau membentakku dengan menghujani pertanyaan-pertanyaan menohok itu. Betapa aku jadi orang bodoh seketika. Aku jadi kerbau, katak atau apalah itu. Serasa aku menikam sendiri jantungku!".

Berasa berada di pulau terasing. Asing seasing-asingnya. Oh Tuhan. Dilema atau memang bodoh diriku ini.

Ternyata itu semua berakhir dengan termenung. Betapa itu adalah hal yang biasa. Ada hikmah dibalik itu semua. Betul, hikmah. Ingatlah kisah amplas. Meskipun dia terasa kasar, tapi sesungguhnya dia menghaluskan benda lain. Nah berkaca dari itu, meski orang lain berkata, bertingkah, menulis kata-kata kasar kepadamu, anggaplah dia seperti amplas yang menghaluskan perasaan dan hatimu. Sehingga engkau lebih berhati-hati terhadap segala ucapan dan tindakanmu.

Dunia sunyi ini sangatlah indah. Tak perlu orang lain mengacak-acak dunia ini. Sungguh kau berkuasa penuh atas dirimu. Kau hanya perlu mempertanggungjawabkan kepada Tuhan Semesta Alam.

Dunia sunyi ini indah, dunia puisi.

Jakal KM 14 Jogja, 22 Maret 2012

*) Ekohm Abiyasa

Categories

Unordered List

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Text Widget